Ilustrasi pemilih muda/Ahmad Ramadani
Ilustrasi pemilih muda/Ahmad Ramadani

Pemilihan Umum 2024 akan didominasi oleh pemilih muda usia 17—40 tahun. Oleh karena itu, pemilih muda dapat memanfaatkan momen ini untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.

KOAKSI INDONESIA — Jelang memasuki masa pemilihan umum serentak, Indonesia memasuki era baru dalam pesta rakyat elektoral. Mengutip csis.or.id, era baru ini ditandai dengan persentase demografi pemilih muda yang dinamis dan adaptif. Pemilih muda diprediksi akan mencapai 60% dari total pemilih Indonesia pada 2024. Dikutip dari portal berita Antara, komisioner KPU RI August Mellaz mengatakan, sekitar 107 juta WNI berkisar usia 17-40 tahun akan mendominasi suara pada pemilihan umum Februari mendatang. 

Jumlah yang besar ini akan memengaruhi partai politik dan calon pemimpin menyusun kebijakan untuk menarik minat pemilih muda. Indonesia di tahun 2045 akan merayakan 100 tahun kemerdekaan beriringan dengan optimisme perwujudan Indonesia Emas.

Baca juga: Bisakah Target Energi Baru dan Terbarukan Tahun 2025 Tercapai?

Dalam rangka mewujudkannya, partai politik pengusung bakal calon kandidat pemimpin penting untuk memperhatikan aspirasi generasi muda. Sebagai segmen yang dominan dalam pemilu 2024, pemilih muda harus menggunakan hak pilihnya untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Bersamaan dengan itu, concern generasi muda terhadap dinamika permasalahan sosial patut dicermati. Kemiskinan, kesehatan, dan akses terhadap lapangan pekerjaan menjadi tiga isu teratas dari rangkaian permasalahan sosial. 

Langkah strategis generasi muda penting untuk dirumuskan sebagai upaya memberikan rekomendasi yang relevan bagi regulator. Mengutip dari lembaga riset pusat telaah dan informasi regional PATTIRO, pelatihan jurnalisme warga, peningkatan kapasitas lokal dan konservasi ekologi merupakan beberapa langkah penting untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan. Dikutip dari Mongabay Indonesia, kepemimpinan yang mendukung aspirasi di kalangan generasi muda terkait isu iklim akan mendapat perhatian yang besar jelang pemilu 2024.

Dalam upaya menjawab isu tersebut political will berupa struktur gagasan dari calon pemimpin akan menjadi produk intelektual yang bisa diminati masyarakat khususnya generasi muda. Pembangunan berkelanjutan termasuk proyeksi penanganan isu perubahan iklim menjadi sektor yang memantik atensi di kalangan generasi muda khususnya polusi udara dan sampah plastik. Green jobs atau pekerjaan hijau, dapat menjadi solusi dari beberapa permasalahan sosial sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Indonesia and the Rise of Green Voters: Three Key Points

Aktivitas pekerjaan berkelanjutan pada konteks green jobs dapat mendorong literasi, meningkatkan kesadaran lingkungan, membuka lapangan pekerjaan hingga penerapan gaya hidup yang lebih sehat di masyarakat. Inisiatif ini perlu disambut pihak pemerintah serta disebarluaskan untuk implementasi solusi di masyarakat. Generasi muda penting untuk membuka wawasan politik agar tidak asal memilih calon kandidat pemimpin. Pemahaman yang relevan sering kali dimanfaatkan partai politik untuk berkampanye di media sosial.

Kedewasaan dalam berdemokrasi erat dengan penggunaan media sosial dan berdampak pada preferensi politik pemilih muda. Media sosial sangat berpengaruh dan berfungsi sebagai kapiler untuk menghubungkan akuntabilitas figur pemimpin dan aspirasi masyarakat. Media sosial pada tahap tertentu akan membentuk persepsi generasi muda tentang politik dan kebijakan. Untuk itu, generasi muda diharapkan menjadi inisiator perubahan untuk mendorong pemilu berbasis kompetensi.

Dengan kata lain, partai politik yang ingin memperoleh suara terbanyak dalam pemilu harus mendengarkan aspirasi pemilih muda. Political will oleh kandidat calon pemimpin harus terkoneksi dengan political ownership yang sudah dibangun oleh generasi muda progresif yang menginginkan Indonesia bergerak ke arah kemajuan. Interkoneksi pencitraan (gimik) yang positif dalam kampanye dapat menjangkau generasi milenial untuk mengubah perilaku di kehidupan bermasyarakat. 

Kecenderungan tersebut terkonfirmasi dari temuan CSIS soal kriteria ideal pemimpin menurut generasi muda. Di samping itu, kemampuan membuat perubahan dan “memimpin di saat krisis” menjadi dua hal yang paling dianggap penting. Dengan begitu, preferensi generasi muda rekam jejak menjadi sangat penting. Hal tersebut mungkin dapat disandingkan dengan aspek ekonomi dan lingkungan mengingat mayoritas anak muda menginginkan peningkatan kesejahteraan dan aksesibilitas lapangan kerja sebagai dua isu strategis yang harus diutamakan.

Sebagai bentuk kritik membangun, setiap kandidat calon pemimpin pada pemilu hendak memberikan struktur yang saling terkoneksi dalam keterlibatan isu-isu strategis maupun turunannya untuk memastikan aspirasi generasi muda dijalankan. Harapannya, aspirasi kolektif generasi Z dan milenial dapat menjadi indikator untuk Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

Baca juga: Diskusi Publik Ruang Aksi 09: “Isu Energi Terbarukan pada Pemilu 2019 dalam Pandangan Milenial”

Register